Selasa, 18 Maret 2014

Tenggelam



Semakin lama, aku semakin terpencil.
Aku masuk ke dalam lorong yang akupun tidak tahu lorong apakah itu.
Aku berlari mencari sinar terang di ujung lorong, tak pernah kutemukan jalannya.
Aku berteriak sekuat tenaga, sekuat ragaku dapat berseru.
Tidak ada seorangpun yang mendengarku.
Rupanya aku seorang diri.
Aku meraba dinding lorong, tapi mengapa dinding itu semakin menjauh?
Aku terus berjalan mendekati cahaya di ujung sana.
Semakin aku mendekat, semakin cahaya itu menjauh, dan aku tak bisa menggapainya.
Semua yang aku lihat semakin pudar.
Kulihat bayang seseorang yang dekat dengan hatiku.
Aku sentuh dirinya.
Musnah.
Dia menghilang dalam sekejap.
Aku menangis, tapi air mataku menghujaniku hingga memenuhi lorong.
Aku tenggelam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar