Si
Kaya dan Si Miskin
Kemarin
sore, aku mendapati diriku sedang jenuh dengan aktivitas rutinku. Bekerja.
Bagaimana tidak? Setiap hari aku menghabiskan berjam-jam waktuku hanya untuk
sebuah komputer. Di ruangan ber-AC yang orang bilang sangat nyaman, namun
tidakkah mereka ketahui? Itu dapat merusak kulitmu perlahan.
Aku
izin bekerja sehari saja untuk menenangkan pikiranku yang kacau. Aku berjalan
santai menuju sebuah taman di tengah kota. Hanya tempat itu yang tersisa untuk
menghasilkan oksigen di kotaku. Lainnya, sudah penuh dengan gedung pencakar
langit yang amat mewah. Ada pula pabrik-pabrik besar dengan asap hitam mengepul
pada cerobong asapnya. Polusi. Pantas saja penyakit semakin bervariasi.
“Kemana
larinya nuranimu, kawan?” Aku memandangi jalanan ibukota. Katanya sudah
merdeka, tapi mana buktinya? Kehidupan ekonomi masih dipenjarakan.
Tibalah
aku di sebuah kursi kosong di taman. Hanya duduk santai dan di temani satu cup
es krim yang kian lama kian meleleh. Kupandangi mereka yang berlalu lalang di
jalan raya ibukota. Pria berdasi dengan mobil mewah, wanita sosialita dengan
mobil mewahnya pula, dan beberapa pengemis yang mengetuk kaca mobil mereka saat
lampu merah menyala. Beberapa dari mereka memang kikir, namun adapula yang
menyempatkan membuka kaca mobilnya untuk menaruh koin-koin di gelas plastik
para pengemis.
Sesaat
lampu hijau menyala, mereka yang mengenakan pakaian compang-camping segera
berlarian menuju pinggir jalan. Para pemilik mobil mewah pun melesat secepat
kilat meninggalkan dan bahkan melupakan kejadian beberapa menit silam. Saat
lampu merah kembali menyala, pengemis-pengemis telah siap untuk kembali
mengetuk kaca mobil mewah dan menyodorkan gelas plastiknya. Hanya untuk
beberapa suap nasi dan menenggak setetes air, mereka rela melakukan apapun.
Rupanya
es krimku sudah meleleh semua, meleleh di lidahku dan turun ke perutku.
Kuputuskan untuk kembali ke kost dan mampir sejenak di restauran seberang
jalan.
Dingin
dan nyaman sekali di dalam restauran. Pantaslah mahal. Pembelinya pun mereka
dengan kantong tebal, pria berdasi, dan kebanyakan wanita sosialita. Maklum
saja, restauran dengan menu makanan ala Timur Tengah memang sering diminati
oleh kalangan menengah atas. Meskipun aku tidak sering kemari, tapi setidaknya
aku tahu siapa saja yang sering memanjakan lidahnya di sini.
Sesegera
mungkin aku meninggalkan tempat itu. Keluar menuju dunia yang panas dan penuh
polusi. Kulihat seorang pengemis mencari makanan sisa yang di buang di tempat
sampah depan restauran. Dia mencoba meraih sebuah bungkusan kusam yang berisi
makanan sisa. Memakannya dengan lahap, bahkan tidak peduli dengan kesehatannya
setelah memakannya. Terlihat sekali ia sangat kelaparan. Tuhan memang baik,
mereka masih diberikan umur panjang walau sebenarnya penyakit selalu mengintai.
Ya
Tuhan, beginikah perbedaan antara si kaya dan si miskin? Mereka yang perkasa
dan berkuasa dengan mudahnya mendapatkan keinginannya. Apalagi mereka yang
mengambil hak si miskin. Inilah hidup, inilah ibukota, yang semakin kesini
semakin besar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Lalu, kapan si
miskin dapat merasakan kehidupan dunia yang layak?
“Hanya
mimpi yang tak pernah terwujud” Bisikku dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar