Jumat, 14 Maret 2014

Si Miskin dan Si Kaya



Si Kaya dan Si Miskin
Kemarin sore, aku mendapati diriku sedang jenuh dengan aktivitas rutinku. Bekerja. Bagaimana tidak? Setiap hari aku menghabiskan berjam-jam waktuku hanya untuk sebuah komputer. Di ruangan ber-AC yang orang bilang sangat nyaman, namun tidakkah mereka ketahui? Itu dapat merusak kulitmu perlahan.
Aku izin bekerja sehari saja untuk menenangkan pikiranku yang kacau. Aku berjalan santai menuju sebuah taman di tengah kota. Hanya tempat itu yang tersisa untuk menghasilkan oksigen di kotaku. Lainnya, sudah penuh dengan gedung pencakar langit yang amat mewah. Ada pula pabrik-pabrik besar dengan asap hitam mengepul pada cerobong asapnya. Polusi. Pantas saja penyakit semakin bervariasi.
“Kemana larinya nuranimu, kawan?” Aku memandangi jalanan ibukota. Katanya sudah merdeka, tapi mana buktinya? Kehidupan ekonomi masih dipenjarakan.
Tibalah aku di sebuah kursi kosong di taman. Hanya duduk santai dan di temani satu cup es krim yang kian lama kian meleleh. Kupandangi mereka yang berlalu lalang di jalan raya ibukota. Pria berdasi dengan mobil mewah, wanita sosialita dengan mobil mewahnya pula, dan beberapa pengemis yang mengetuk kaca mobil mereka saat lampu merah menyala. Beberapa dari mereka memang kikir, namun adapula yang menyempatkan membuka kaca mobilnya untuk menaruh koin-koin di gelas plastik para pengemis.
Sesaat lampu hijau menyala, mereka yang mengenakan pakaian compang-camping segera berlarian menuju pinggir jalan. Para pemilik mobil mewah pun melesat secepat kilat meninggalkan dan bahkan melupakan kejadian beberapa menit silam. Saat lampu merah kembali menyala, pengemis-pengemis telah siap untuk kembali mengetuk kaca mobil mewah dan menyodorkan gelas plastiknya. Hanya untuk beberapa suap nasi dan menenggak setetes air, mereka rela melakukan apapun.
Rupanya es krimku sudah meleleh semua, meleleh di lidahku dan turun ke perutku. Kuputuskan untuk kembali ke kost dan mampir sejenak di restauran seberang jalan.
Dingin dan nyaman sekali di dalam restauran. Pantaslah mahal. Pembelinya pun mereka dengan kantong tebal, pria berdasi, dan kebanyakan wanita sosialita. Maklum saja, restauran dengan menu makanan ala Timur Tengah memang sering diminati oleh kalangan menengah atas. Meskipun aku tidak sering kemari, tapi setidaknya aku tahu siapa saja yang sering memanjakan lidahnya di sini.
Sesegera mungkin aku meninggalkan tempat itu. Keluar menuju dunia yang panas dan penuh polusi. Kulihat seorang pengemis mencari makanan sisa yang di buang di tempat sampah depan restauran. Dia mencoba meraih sebuah bungkusan kusam yang berisi makanan sisa. Memakannya dengan lahap, bahkan tidak peduli dengan kesehatannya setelah memakannya. Terlihat sekali ia sangat kelaparan. Tuhan memang baik, mereka masih diberikan umur panjang walau sebenarnya penyakit selalu mengintai.
Ya Tuhan, beginikah perbedaan antara si kaya dan si miskin? Mereka yang perkasa dan berkuasa dengan mudahnya mendapatkan keinginannya. Apalagi mereka yang mengambil hak si miskin. Inilah hidup, inilah ibukota, yang semakin kesini semakin besar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Lalu, kapan si miskin dapat merasakan kehidupan dunia yang layak?
“Hanya mimpi yang tak pernah terwujud” Bisikku dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar