Selasa, 18 Maret 2014

Tenggelam



Semakin lama, aku semakin terpencil.
Aku masuk ke dalam lorong yang akupun tidak tahu lorong apakah itu.
Aku berlari mencari sinar terang di ujung lorong, tak pernah kutemukan jalannya.
Aku berteriak sekuat tenaga, sekuat ragaku dapat berseru.
Tidak ada seorangpun yang mendengarku.
Rupanya aku seorang diri.
Aku meraba dinding lorong, tapi mengapa dinding itu semakin menjauh?
Aku terus berjalan mendekati cahaya di ujung sana.
Semakin aku mendekat, semakin cahaya itu menjauh, dan aku tak bisa menggapainya.
Semua yang aku lihat semakin pudar.
Kulihat bayang seseorang yang dekat dengan hatiku.
Aku sentuh dirinya.
Musnah.
Dia menghilang dalam sekejap.
Aku menangis, tapi air mataku menghujaniku hingga memenuhi lorong.
Aku tenggelam.

Jumat, 14 Maret 2014

Rinduku Untukmu



Rinduku Untukmu
Gelung kasih dikala  hati berbunga
Indahnya gemuruh asmara
Untaian rindu hadir di dada
Menelusup jauh di relung jiwa
                        Senyummu yang masih kunanti
                        Tiada jenuh dalam hati
                        Hingga waktu terus menggerogoti
                        Namun aku masih saja peduli
Diriku sebut namamu
Dalam hati hanya ada satu
Terukir sebuah kalimat syahdu
Kau masih kekasihku
                        Kisah kasih antara kita
                        Kian lama kian lara
                        Tiada pernah kita berjumpa
                        Mungkinkah sayang kita kan jumpa?

Ketika Aku Terluka



Ketika aku jatuh cinta dengan orang yang sudah dimiliki orang lain
Mengakui kenyataannya adalah hal yang sangat menyedihkan
Menyakitkan hati
Semakin aku tahu mereka saling mencintai satu sama lain
Rasa sakit kian merobek hatiku
Namun, akan lebih menyakitkan jika aku menjadi orang yang selalu mengalah
Untuk keseribu kalinya, aku harus benar-benar meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja
Tidak ada yang salah, aku, dia dan dirinya
Hanya waktu yang tidak tepat untuk kumiliki
Berjalannya waktu akan mempertemukan kita nantinya
Kita telah bertemu pada waktu yang salah
Akulah yang terluka

Acuh tak Acuh



Acuh tak Acuh
Dia datang ketika butuh
Namun mendadak pergi ketika aku yang terjatuh
Acuh tak acuh
Begitulah yang bisa dia lakukan saat mendengar keluh kesahku
Menangis,
Memohon,
Mengemis pertolongan saat dia jatuh
Bisa-bisanya menjauh ketika aku terpuruk
Namun dia tetap mengaduh
Kembali padaku ketika mengalami mimpi buruk
Memaksaku untuk ikut merasakan keterpurukan
Memintaku untuk membangunkannya dari mimpi buruk
Membuangku jauh-jauh ketika dia menyentuh kebahagiaan
Menangis dihadapanku ketika diserbu derita dan kesedihan
Akhirnya, dia masih bisa tertawa saat air mataku jatuh untuknya

Kesepian



Kesepian
Gadis yang lahir dari perut sang Bunda
Dikasihi dan disayangi sanak saudara
Tapi kini akulah si penyendiri
Bukan ragaku yang sendiri
Walau aku ini sebatangkara
Batinku yang sebatangkara
Itulah mengapa kusebut aku dipenjarakan
Penjaraku yang bernama kesepian
Aku ingin bebas
Aku ingin berlari
Mau kemana aku berlari?
Karena aku tak tau arah
Aku pun tak tau jalan
Rupanya aku tersesat
Tersesat di sebuah jalan yang bernama kehidupan


Inspired by:
Hatake Kakasi (Naruto)