Semakin
lama, aku semakin terpencil.
Aku
masuk ke dalam lorong yang akupun tidak tahu lorong apakah itu.
Aku
berlari mencari sinar terang di ujung lorong, tak pernah kutemukan jalannya.
Aku
berteriak sekuat tenaga, sekuat ragaku dapat berseru.
Tidak
ada seorangpun yang mendengarku.
Rupanya
aku seorang diri.
Aku
meraba dinding lorong, tapi mengapa dinding itu semakin menjauh?
Aku
terus berjalan mendekati cahaya di ujung sana.
Semakin
aku mendekat, semakin cahaya itu menjauh, dan aku tak bisa menggapainya.
Semua
yang aku lihat semakin pudar.
Kulihat
bayang seseorang yang dekat dengan hatiku.
Aku
sentuh dirinya.
Musnah.
Dia
menghilang dalam sekejap.
Aku
menangis, tapi air mataku menghujaniku hingga memenuhi lorong.
Aku
tenggelam.