Minggu, 15 November 2015

FIGOGEOGRAFI POHON, ATUS SYAHBUDIN

tTUGAS FITOGEOGRAFI
Pertemuan : IX, 12 November 2015

A.    Ekosistem Hutan Pantai
Pada ekosistem hutan pantai ini tumbuh beberapa spesies pohon seperti Barringtonia speciosa, Terminalia catappa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus tiliaceus, Thespesia populnea, Casunarina equisetifolia, dan Pisonia grandis (Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976; Santoso 1996). Selain spesies diatas, pada ekosistem hutan pantai dapat juga ditemukan spesies pohon Hernandia peltata, Manilkara kauki dan Sterculia foetida (Arief, 1994).
Spesies-spesies pohon yang pada umumnya terdapat dalam ekosistem hutan pantai antara lain Barringtonia asiatica, Terminalia catappa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus tiliaceus, Casuarina equisetifolia, dan Pisonia grandis. Selain spesies-spesies pohon tersebut, temyata kadang-kadang terdapat juga spesies pohon Hernandia peltata, Manilkara kauki, dan Sterculia foetida.
1.      Formasi Pescaprae
Formasi ini terdapat pada tumpukan tumpukan pasir yang mengalami proses peninggian di sepanjang pantai, dan hampir terdapat di seluruh pantai Indonesia. Komposisi spesies tumbuhan pada formasi pescaprae di mana saja hampir sama karena spesies tumbuhannya di dominasi oleh Ipomoea pescaprae (kaki kambing) salah satu spesies tumbuhan menjalar, herba rendah yang akarnya mampu mengikat pasir. Sebetulnya nama formasi pescaprae diambil dari nama spesies tumbuhan yang dominan itu. Akan tetapi, ada spesies-spesies tumbuhan lainnya yang umumnya terdapat pada formasi pescaprae antara lain Cyperus penduculatus, Cyperus stoloniferus, Thuarea linvoluta, Spinifex littoralis, Vitex trifolia, Ishaemum muticum, Euphorbia atoto, Launaca sarmontasa, Fimbrstylis sericea,Canavalia abtusiofolia, Triumfetta repens, Vigna marina, Ipomoea carnosa, Ipomoea denticulata, dan Ipomoea littoralis.
a.     Tapak kuda (Ipomoea pescaprae)
1)      Familia Convolvulaceae.
2)      Batangnya mengeluarkan getah putih.
3)      Daunnya tunggal, letaknya tersebar, bertangkai dengan panjang 2–3 cm, bergetah warna putih dan keluar apabila dipatahkan.
4)       Perbungaannya majemuk,
5)      Daun kelopaknya tidaklah sama, agak menjangat, mahkota mencorong, ungu sampai ungu kemerahan. 
6)      Buahnya tergolong buah memecah (dehiscent) berbentuk kapsul bundar hingga agak datar dengan empat biji berwarna hitam dan dan berambut rapat, terang, dan berwarna coklat.
7)      Masyarakat menggunakan tapak kuda ini untuk mengobati konstipasi; saat dikunyah bersamaan dengan biji pinang, ia bisa untuk mengobati keram perut dan nyeri
2.      Formasi Barringtonia
Disebut formasi Barringtonia karena spesies tumbuhan yang dominan di daerah ini adalah spesies pohon Barringtonia asiatica. Sebenarnya yang dimaksud ekosistem hutan pantai adalah formasi Barringtonia ini. Beberapa spesies pohon yang tumbuh di pantai dan menyusun ekosistem hutan pantai antara lain Barringtonia asiatica, Casuarina equisetifolia, Terminalia eatappa, Hibiscus tiliaceus, Calophyllum inophyllum, Hernandia peltata, Sterculia foetida, Manilkara kauki, Cocos nucifera, Crinum asiaticum, Cycas rumphii, Caesalpinia bonducella, Morinda citrifolia, Oehrocarpus ovalifolius, Taeea leontopetaloides, Thespesia populnea, Tournefortia argentea, Wedelia biflora, Ximenia americana, Pisonia grandis, Pluehea indica, Pongamia pinnata, Premna Corymbosa, Premna obtusifolia, Pemphis acidula, Planchonella obovata, Scaevola taccada, Scaevola frutescens, Desmodium umbellatum, Dodonaea viscesa, Sophora tomentosa, Erythrina variegata, Guettarda speciosa, Pandanus bidur, Pandanus tectorius, dan Nephrolepis biserrata.
a.       Butun atau keben (Barringtonia asiatica)
1)      Familia Lecythidaceae
2)      Pohon dengan tinggi 5–17 m dan diameternya 50 cm.
3)      Daun duduk, bulat telur terbalik, bentuk memanjang atau bentuk lanset, kerapkali dengan ujung dan pangkal membulat.
4)      Bunga beraturan, kerapkali panjang, dalam tandan yang tegak, di ujung berbunga 4-20.
5)      Buah serupa piramida lebar, bersegi empat, coklat, tinggi kurang lebih 10 cm, dengan dinding tebal berserabut seperti kayu, taju kelopak dan tangkai putik panjang dan tetap tinggal.
6)      Perbungaannya berbentuk tandan dan letaknya diujung, jarang diketiak, kelopak bunga hijau seperti tabung panjang, daun mahkota putih, menjorong, benang sari memerah di ujung, putik memerah diujungnya.

B.     Ekosistem Hutan Mangrove
Hutan  mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen dan hutan payau (bahasa Indonesia). Selain itu, hutan mangrove oleh masyarakat Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Penggunaan istilahhutan bakau untuk hutan mangrove sebenarnya kurang tepat dan rancu, karena bakau hanyalah nama lokal dari marga Rhizophora, sementara hutan mangrove disusun dan ditumbuhi oleh banyak marga dan jenis tumbuhan lainnya. Oleh karena itu, penyebutan hutan mangrove dengan hutan bakau sebaiknya dihindari (Kusmana, 1995).
Ekosistem hutan payau termasuk tipe ekosistem hutan yang tidak terpengaruh oleh iklim, tetapi faktor lingkungan yang sangat dominan dalam pembentukan ekosistem itu adalah faktor edafis. Salah satu faktor lingkungan lainnya yang sangat menentukan perkembangan hutan payau adalah salinitas atau kadar garam (Kusmana, 1995).
1.      Bakau (Rhizopora mucronata)
a.       Familia Rhizoporaceae
b.      Pohon, tinggi 4-30 meter, batang dan cabang seringkali berakar udara atau akar tunjang yang bercabang.
c.       Dan, tunggal, berhadapan, elliptic atau oblongus, helaian daun tebal, stipula menutup kuncup ujung, berwarna kehijauan.
d.      Bunga dalam payung 2-4 (5), kelopak 4, panjang taju kurang lebih 1,5 cm. Hipocotyl panjangnya 40-60 cm, berbentuk gada.
e.       Buah, hijau coklat kotor, berbentuk telur memanjang, panjang 5-7 cm, berbiji 1, biji sudah berkecambah pada saat buah masih melekat di pohon.
f.       Tempat tumbuh : pantai lumpur yang berawa, ditanam disepanjang kolam ikan.
2.      Tancang (Bruguiera conjugate)
a.       Familia Rhizophoraceae
b.      Pohon, tinggi 3-30 meter, pangkal batang terdapat akar papan, akar di atas lumpur membengkok membentuk lutut (akar lutut)
c.       Daun, tunggal, berhadapan, helaian tebal, elliptic atau oblongus, ukuran 10-20 cm x 4,5-7,5 cm. stipula menutup kuncup ujung, berwarna kemerahan.
d.      Bunga, hamper merunduk, tangkai bunga 1-2,5 cm. Kelopak Bungan kemerahan, berjumlah 12-15 buah, taju-taju panjang kurang lebih 2 cm, mahkota panjang 1-1,5 cm, hijau atau putih, bertaju 2. Stamen 2, nakal buah beruang 2-4.
e.       Buah berbentuk lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. biji sudah berkecambah pada waktu buah masih melekat dipohon.
3.      Nyiri (Xylocarpus moluccensis)
a.       Familia Meliaceae
b.      Memiliki akar nafas berbentuk seperti lutu.
c.       Daunnya majemuk menyirip tersusun dalam 4 atau 6 anak daun.
4.      Api-api (Avicennia sp.)
a.          Familia Acanthaceae
b.         Akar napas serupa paku yang panjang dan rapat, muncul ke atas lumpur di sekeliling pangkal batangnya.
c.          Daun-daun dengan kelenjar garam di permukaan bawahnya. Daun api-api berwarna putih di sisi bawahnya, dilapisi kristal garam. Ini adalah kelebihan garam yang dibuang oleh tumbuhan tersebut.
d.         Biji api-api berkecambah tatkala buahnya belum gugur, masih melekat di rantingnya. Dengan demikian biji ini dapat segera tumbuh sebegitu terjatuh atau tersangkut di lumpur.
e.          Perbungaan dalam karangan bertangkai panjang bentuk payung, malai atau bulir, terletak di ujung tangkai atau di ketiak daun dekat ujung. Bunga-bunga duduk (sessile), membulat ketika kuncup, berukuran kecil antara 0,3-1,3 cm, berkelamin dua, kelopak 5 helai, mahkota kebanyakan 4 (jarang 5 atau 6) helai, kebanyakan kuning atau jingga kekuningan dengan bau samar-samar, benang sari kebanyakan 4, terletak berseling dengan mahkota bunga. Buah berupa kapsul yang memecah (dehiscent) menjadi dua, 1–4 cm panjangnya, hijau abu-abu, berbulu halus di luarnya; vivipar, bijinya tumbuh selagi buah masih di pohon.

(((MASIH DALAM PROSES PENGERJAAN, AKAN DILENGKAPI OLEH ADMIN SESEGERA MUNGKIN))) ^_^ 

Daftar Pustaka
Arief, A. 1994. Hutan: Hakikat dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan. Jakarta: Penerbit Yayasan Obor Indonesia.
Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976. Vademecum Kehutanan Indonesia. Jakarta: Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Kehutanan.
Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Santoso, Y. 1996. Diversitas dan Tipologi Ekosistem Hutan yang Perlu Dilestarikan. Proseding Simposium Penerapan Ekolabel di Hutan Produksi pada tanggal 10-12 Agustus 1995. Kerja Sama Fakultas Kehutanan IPB dengan Yayasan Gunung Menghijau dan Yayasan Pendidikan Ambarwati. Bogor.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar