tTUGAS FITOGEOGRAFI
A. Ekosistem Hutan Pantai
Dosen : Atus Syahbudin
Pertemuan : IX, 12 November 2015
Pada ekosistem hutan
pantai ini tumbuh beberapa
spesies pohon seperti Barringtonia
speciosa, Terminalia
catappa, Calophyllum
inophyllum, Hibiscus
tiliaceus, Thespesia
populnea, Casunarina
equisetifolia, dan Pisonia
grandis (Direktorat Jenderal
Kehutanan, 1976; Santoso 1996). Selain spesies diatas, pada ekosistem hutan
pantai dapat juga ditemukan spesies pohon Hernandia
peltata, Manilkara kauki dan Sterculia foetida (Arief, 1994).
Spesies-spesies pohon yang pada umumnya terdapat dalam
ekosistem hutan pantai antara lain Barringtonia
asiatica, Terminalia catappa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus tiliaceus,
Casuarina equisetifolia, dan Pisonia grandis. Selain
spesies-spesies pohon tersebut, temyata kadang-kadang terdapat juga spesies
pohon Hernandia peltata, Manilkara
kauki, dan Sterculia foetida.
1. Formasi
Pescaprae
Formasi ini terdapat pada
tumpukan tumpukan pasir yang mengalami proses peninggian di sepanjang pantai,
dan hampir terdapat di seluruh pantai Indonesia. Komposisi spesies tumbuhan
pada formasi pescaprae di mana saja hampir sama karena spesies tumbuhannya di
dominasi oleh Ipomoea
pescaprae (kaki kambing)
salah satu spesies tumbuhan menjalar, herba rendah yang akarnya mampu mengikat
pasir. Sebetulnya nama formasi pescaprae diambil dari nama spesies tumbuhan
yang dominan itu. Akan tetapi, ada spesies-spesies tumbuhan lainnya yang
umumnya terdapat pada formasi pescaprae antara lain Cyperus penduculatus, Cyperus stoloniferus, Thuarea linvoluta, Spinifex littoralis, Vitex trifolia, Ishaemum muticum, Euphorbia atoto, Launaca sarmontasa, Fimbrstylis sericea,Canavalia
abtusiofolia, Triumfetta
repens, Vigna marina, Ipomoea carnosa, Ipomoea denticulata, dan Ipomoea littoralis.
a.
Tapak kuda (Ipomoea pescaprae)
1) Familia Convolvulaceae.
2) Batangnya mengeluarkan getah putih.
3) Daunnya tunggal,
letaknya tersebar, bertangkai dengan panjang 2–3 cm, bergetah warna putih
dan keluar apabila dipatahkan.
5)
Daun kelopaknya
tidaklah sama, agak menjangat, mahkota mencorong, ungu sampai ungu kemerahan.
6) Buahnya tergolong
buah memecah (dehiscent) berbentuk kapsul bundar hingga agak datar
dengan empat biji berwarna hitam dan dan berambut rapat, terang, dan berwarna
coklat.
7) Masyarakat menggunakan tapak kuda ini untuk mengobati
konstipasi; saat dikunyah bersamaan dengan biji pinang, ia bisa untuk mengobati keram perut dan
nyeri
2. Formasi
Barringtonia
Disebut
formasi Barringtonia karena spesies tumbuhan yang dominan di daerah
ini adalah spesies pohon Barringtonia
asiatica. Sebenarnya yang dimaksud ekosistem hutan pantai adalah
formasi Barringtonia ini. Beberapa spesies pohon yang tumbuh di pantai dan
menyusun ekosistem hutan pantai antara lain Barringtonia asiatica, Casuarina equisetifolia, Terminalia eatappa,
Hibiscus tiliaceus, Calophyllum inophyllum, Hernandia peltata, Sterculia
foetida, Manilkara kauki, Cocos nucifera, Crinum asiaticum, Cycas rumphii,
Caesalpinia bonducella, Morinda citrifolia, Oehrocarpus ovalifolius, Taeea
leontopetaloides, Thespesia populnea, Tournefortia argentea, Wedelia biflora,
Ximenia americana, Pisonia grandis, Pluehea indica, Pongamia pinnata, Premna
Corymbosa, Premna obtusifolia, Pemphis acidula, Planchonella obovata, Scaevola
taccada, Scaevola frutescens, Desmodium umbellatum, Dodonaea viscesa, Sophora
tomentosa, Erythrina variegata, Guettarda speciosa, Pandanus bidur, Pandanus
tectorius, dan Nephrolepis
biserrata.
a. Butun atau keben (Barringtonia asiatica)
1)
Familia Lecythidaceae
2)
Pohon dengan tinggi 5–17
m dan diameternya 50 cm.
3)
Daun duduk,
bulat telur terbalik, bentuk memanjang atau bentuk lanset, kerapkali
dengan ujung dan pangkal membulat.
4)
Bunga beraturan,
kerapkali panjang, dalam tandan yang tegak, di ujung berbunga 4-20.
5)
Buah serupa piramida
lebar, bersegi empat, coklat, tinggi kurang lebih 10 cm, dengan dinding
tebal berserabut seperti kayu, taju kelopak
dan tangkai putik panjang dan tetap tinggal.
6)
Perbungaannya berbentuk tandan
dan letaknya diujung, jarang diketiak, kelopak bunga hijau seperti tabung
panjang, daun mahkota putih, menjorong, benang sari memerah di ujung, putik
memerah diujungnya.
B. Ekosistem
Hutan Mangrove
Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal
forest, coastal woodland, vloedbosschen dan hutan
payau (bahasa Indonesia). Selain itu, hutan mangrove oleh masyarakat
Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut
dengan hutan bakau. Penggunaan istilahhutan bakau untuk hutan
mangrove sebenarnya kurang tepat dan rancu, karena bakau hanyalah nama lokal
dari marga Rhizophora, sementara hutan mangrove disusun dan ditumbuhi oleh
banyak marga dan jenis tumbuhan lainnya. Oleh karena itu, penyebutan hutan
mangrove dengan hutan bakau sebaiknya dihindari (Kusmana, 1995).
Ekosistem hutan payau termasuk tipe ekosistem hutan
yang tidak terpengaruh oleh iklim, tetapi faktor lingkungan yang sangat dominan
dalam pembentukan ekosistem itu adalah faktor edafis. Salah satu faktor lingkungan
lainnya yang sangat menentukan perkembangan hutan payau adalah salinitas atau
kadar garam (Kusmana, 1995).
1. Bakau
(Rhizopora mucronata)
a. Familia
Rhizoporaceae
b. Pohon,
tinggi 4-30 meter, batang dan cabang seringkali berakar udara atau akar tunjang
yang bercabang.
c. Dan,
tunggal, berhadapan, elliptic atau oblongus, helaian daun tebal, stipula
menutup kuncup ujung, berwarna kehijauan.
d. Bunga dalam payung 2-4 (5), kelopak 4, panjang taju
kurang lebih 1,5 cm. Hipocotyl panjangnya 40-60 cm, berbentuk gada.
e. Buah, hijau coklat kotor, berbentuk telur memanjang,
panjang 5-7 cm, berbiji 1, biji sudah berkecambah pada saat buah masih melekat
di pohon.
f.
Tempat
tumbuh : pantai lumpur yang berawa, ditanam disepanjang kolam ikan.
2. Tancang
(Bruguiera conjugate)
a. Familia
Rhizophoraceae
b. Pohon,
tinggi 3-30 meter, pangkal batang terdapat akar papan, akar di atas lumpur
membengkok membentuk lutut (akar lutut)
c. Daun,
tunggal, berhadapan, helaian tebal, elliptic atau oblongus, ukuran 10-20 cm x
4,5-7,5 cm. stipula menutup kuncup ujung, berwarna kemerahan.
d. Bunga,
hamper merunduk, tangkai bunga 1-2,5 cm. Kelopak Bungan kemerahan, berjumlah
12-15 buah, taju-taju panjang kurang lebih 2 cm, mahkota panjang 1-1,5 cm, hijau
atau putih, bertaju 2. Stamen 2, nakal buah beruang 2-4.
e. Buah
berbentuk lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. biji sudah berkecambah pada waktu buah
masih melekat dipohon.
3. Nyiri
(Xylocarpus moluccensis)
a. Familia
Meliaceae
b. Memiliki
akar nafas berbentuk seperti lutu.
c. Daunnya
majemuk menyirip tersusun dalam 4 atau 6 anak daun.
4. Api-api
(Avicennia sp.)
a.
Familia Acanthaceae
b.
Akar napas serupa paku yang panjang dan rapat, muncul ke atas
lumpur di sekeliling pangkal batangnya.
c.
Daun-daun dengan kelenjar garam di
permukaan bawahnya. Daun api-api berwarna putih di sisi bawahnya, dilapisi
kristal garam.
Ini adalah kelebihan garam yang dibuang oleh tumbuhan tersebut.
d.
Biji api-api berkecambah tatkala buahnya
belum gugur, masih melekat di rantingnya. Dengan demikian biji ini dapat segera
tumbuh sebegitu terjatuh atau tersangkut di lumpur.
e.
Perbungaan dalam karangan
bertangkai panjang bentuk payung, malai atau bulir, terletak di ujung tangkai
atau di ketiak daun dekat ujung. Bunga-bunga duduk (sessile), membulat ketika kuncup, berukuran kecil antara
0,3-1,3 cm, berkelamin dua, kelopak 5 helai, mahkota kebanyakan 4 (jarang
5 atau 6) helai, kebanyakan kuning atau jingga kekuningan dengan bau
samar-samar, benang sari kebanyakan 4, terletak berseling dengan mahkota bunga.
Buah berupa kapsul yang memecah (dehiscent) menjadi dua, 1–4 cm panjangnya, hijau
abu-abu, berbulu halus di luarnya; vivipar, bijinya
tumbuh selagi buah masih di pohon.
(((MASIH DALAM PROSES PENGERJAAN, AKAN DILENGKAPI OLEH ADMIN SESEGERA MUNGKIN))) ^_^
Daftar
Pustaka
Arief,
A. 1994. Hutan: Hakikat dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan. Jakarta:
Penerbit Yayasan Obor Indonesia.
Direktorat
Jenderal Kehutanan, 1976. Vademecum Kehutanan Indonesia. Jakarta:
Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Kehutanan.
Kusmana
& Istomo, 1995. Ekologi Hutan : Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Santoso,
Y. 1996. Diversitas dan Tipologi Ekosistem Hutan yang Perlu Dilestarikan.
Proseding Simposium Penerapan Ekolabel di Hutan Produksi pada tanggal 10-12
Agustus 1995. Kerja Sama Fakultas Kehutanan IPB dengan Yayasan Gunung Menghijau
dan Yayasan Pendidikan Ambarwati. Bogor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar